PT. Gunung Raja Paksi Tbk

Delegasi Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB Kunjungi PT Gunung Raja Paksi Tbk, Perdalam Implementasi CBAM dan Strategi Dekarbonisasi Industri Baja

PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP), salah satu produsen baja terpadu terkemuka di Indonesia, menerima kunjungan delegasi dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Publik, Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (CPPM-SBM ITB) pada Senin, 25 Mei 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya SBM ITB dalam memperkaya wawasan akademik dan empiris terkait kebijakan industri, khususnya dalam konteks penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan transformasi dekarbonisasi pada sektor manufaktur strategis nasional.

Sebagai unit yang menyediakan penelitian dan bukti empiris yang kuat dalam menjelaskan proses kebijakan dan manajemen publik di Indonesia, CPPM-SBM ITB merupakan bagian dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB yang telah berdiri sejak 31 Desember 2003. SBM ITB dikenal sebagai pusat pengembangan teknopreneur di Indonesia, dan menjadi salah satu sekolah bisnis terkemuka.

Rombongan SBM ITB yang berjumlah total 31 orang, terdiri dari mahasiswa SBM ITB, para analis CPPM ITB, serta beberapa mitra strategis SBM ITB, dipimpin langsung oleh Bapak Yudo Anggoro, Ph.D., Bapak Dr. Manahan Parlindungan Saragih Siallagan, S.Si., M.Eng., M.Sc., dan Bapak Rama Permana, Ph.D. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh jajaran manajemen GRP yang terdiri dari Bapak Ivan Widjaksono selaku Direktur Teknologi dan Supply Chain yang memiliki perhatian besar terhadap isu keberlanjutan (sustainability), Bapak Harianto selaku Direktur Keuangan, serta Bapak Charis Afianto selaku tim Sustainability dan QAQC GRP.

 

Dalam pertemuan tersebut, Ivan Widjaksono memberikan paparan mendalam mengenai regulasi CBAM, mulai dari metode perhitungan, mekanisme penerapan, hingga tantangan implementasinya bagi industri baja nasional. Tidak hanya itu, beliau juga membagikan langkah konkret yang telah ditempuh GRP dalam mengimplementasikan CBAM, termasuk strategi produksi baja rendah karbon serta proses perolehan sertifikasi Environmental Product Declaration (EPD) dari Australia dan Amerika Serikat, sebuah pencapaian yang menegaskan posisi GRP sebagai salah satu pelopor dekarbonisasi di sektor baja Indonesia.

Diskusi pun meluas dari isu regulasi global ke inovasi nyata. Ivan Widjaksono memperkenalkan Fortise dan Fortise+, dua merek baja rendah karbon GRP yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan industri di era hijau, sekaligus memberikan gambaran konkret bagaimana komitmen dekarbonisasi diwujudkan dalam bentuk produk nyata.

Sesi berlangsung dengan suasana diskusi yang sangat interaktif. Para peserta dari SBM ITB mengajukan berbagai pertanyaan kritis, mulai dari estimasi biaya investasi teknologi EAF (Electric Arc Furnace), tahapan implementasi dekarbonisasi yang telah dan akan dijalankan GRP, hingga perbandingan efisiensi antara penggunaan listrik dari jaringan PLN dengan energi terbarukan berbasis panel surya yang saat ini sudah terpasang dengan kapasitas 9,3 MWp. Diskusi yang berlangsung dinamis ini mencerminkan antusiasme tinggi peserta dalam memahami secara langsung praktik nyata penerapan CBAM dan dekarbonisasi pada industri baja di Indonesia.

   

Mengakhiri kunjungan, tim SBM ITB menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran manajemen GRP atas sambutan hangat serta pemaparan yang komprehensif mengenai CBAM dan dekarbonisasi. Kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan akademik mahasiswa dan peneliti SBM ITB dalam melihat secara langsung bagaimana industri baja nasional beradaptasi terhadap regulasi perdagangan karbon global. Sebagai penutup kegiatan, delegasi SBM ITB berkesempatan mengunjungi beberapa unit bisnis peleburan (smelting) di area produksi GRP, sekaligus melakukan sesi foto bersama sebagai dokumentasi kenang-kenangan dari kunjungan ini.