GRP mewakili suara industri baja Indonesia di panggung kebijakan nasional

Jakarta, 19 Agustus 2026, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) kembali mendapat kepercayaan untuk hadir di panggung kebijakan baja hijau nasional yang paling bergengsi. Ivan Widjaksono, Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk, kembali dipercaya sebagai salah satu pembicara dalam Green Steel for Growth Convening 2026 yang diselenggarakan oleh Climate Catalyst, organisasi nirlaba internasional yang mendorong aksi kolektif percepatan transisi iklim, bekerja sama dengan PSE Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara berlangsung pada pukul 08.00–16.00 WIB di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta Selatan.
Green Steel for Growth Convening 2026 merupakan forum multi-pemangku kepentingan bertaraf nasional yang mempertemukan perwakilan kementerian, lembaga pemerintah, industri baja, lembaga keuangan internasional, organisasi masyarakat sipil, lembaga riset, dan mitra pembangunan. Forum ini sekaligus menjadi momentum peluncuran resmi laporan "Indonesia's Low-Carbon Steel Opportunities to Maximise Industry and Economic Growth" serta pengenalan platform kolaborasi "Green Steel for Growth Network", jaringan ekosistem baja hijau Indonesia yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam satu platform terkoordinasi.
Ivan Widjaksono tampil sebagai narasumber dalam Diskusi Panel Industri bertema "Perspektif Industri tentang Baja Rendah Karbon: Daya Saing, Investasi, dan Perlindungan Pasar", yang berlangsung pada sesi kedua (pukul 13.00–14.05 WIB). Bersama narasumber dari Meranti Green Steel, Dexin Steel Indonesia dan IISIA, Ivan membawa perspektif industri yang konkret mengenai tantangan dan peluang dalam membangun industri baja rendah karbon yang tetap kompetitif, mencakup pengalaman GRP, kebutuhan investasi, kesiapan teknologi, serta pentingnya perlindungan pasar dalam mendukung proses transisi.
Dalam paparannya bertajuk "Indonesia's Green Steel Opportunity: From Market Potential to Industrial Competitiveness", Ivan menyampaikan analisis mendalam mengenai perbandingan teknologi EAF dan Blast Furnace dari perspektif emisi dan efisiensi, tantangan utama transisi baja hijau Indonesia, khususnya intensitas karbon listrik nasional sebesar 0,79 kgCO₂/kWh yang masih lebih tinggi dibanding Vietnam (0,51) dan China (0,59), serta rekomendasi kebijakan strategis yang mencakup pemanfaatan TKDN, anti-dumping, sertifikasi industri hijau, dan green procurement sebagai instrumen percepatan transisi.
“Baja rendah karbon bukan sekadar tujuan lingkungan. Ini adalah fondasi daya saing industri baja Indonesia di masa depan, dan keberhasilannya hanya bisa dicapai ketika investasi, akses pasar, dan regulasi perdagangan yang adil bergerak bersama dalam satu arah yang terkoordinasi.”
Ivan Widjaksono - Direktur, PT Gunung Raja Paksi Tbk
Kehadiran GRP dalam forum bergengsi yang dihadiri oleh beberapa institusi kementerian/lembaga, organisasi masyarakat sipil, pemain industri baja nasional, ini semakin memperkuat posisi GRP sebagai pelopor industri baja hijau Indonesia, perusahaan yang tidak hanya berkomitmen pada keberlanjutan di lini produksi, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membentuk arah kebijakan industri baja nasional menuju era rendah karbon.
Kiprah Ivan Widjaksono sebagai pembicara di forum-forum kebijakan strategis nasional dan internasional merupakan wujud nyata dari komitmen GRP, bahwa membangun industri baja yang bertanggung jawab membutuhkan lebih dari sekadar inovasi di lantai produksi, tetapi juga keberanian untuk duduk di meja yang sama dengan pembuat kebijakan dan mendorong perubahan yang sistemik.
